Merti Padukuhan Kroco "Nggayuh Wahyu Tuk Pitu" Sebuah Cita-Cita yang Harus Diwujudkan

11 Februari 2026
SLAMET SUPRIYONO.. S.SI
Dibaca 13 Kali
Merti Padukuhan Kroco

Sendangsari- Ratusan Warga Padukuhan Kroco, Kalurahan Sendangsari, kembali menggelar tradisi tahunan Merti Padukuhan sebagai wujud syukur dan pelestarian budaya. Rangkaian acara berlangsung sejak 25 Januari hingga puncaknya pada 8 Februari 2026, dengan berbagai kegiatan yang mengandung nilai gotong royong, spiritualitas, dan kearifan lokal. Tema besar tahun ini "Nggayuh Wahyu Tuk Pitu", yang secara filosofis, angka pitu sering dikaitkan dengan harapan akan pitulungan (pertolongan) dari Tuhan, pituduh (petunjuk/bimbingan), serta pitutur (nasihat atau wejangan baik) dalam menjalani kehidupan.

Kegiatan diawali dengan kerja bakti bersih makam pada tanggal 25 Januari dilanjutkan kerja bakti sepanjang jalan dan lingkungan tanggal 1 Februari, Muqodaman membaca Al-Quran khatam 30 juz pada 06 Februari, Ziarah Makam leluhur cikal bakal Padukuhan Kroco 8 Februari dilanjutkan acara puncak kepungan.

Puncak acara dilaksanakan di Joglo Bantala Abyudaya Padukuhan Kroco, Minggu 8 Februari diawali dengan prosesi adat yaitu pengambilan air suci dari tuk pitu atau tujuh mata air yang tersebar di wilayah Padukuhan Kroco, yang sebelumya sudah di “tawu” atau dibersihka. Sumber air (Toya Wening Tuk Pitu), antara lain Belik Sari, Gondangsari, Sumbermulyo, Besole, Pandan, Beji, dan Kroya.

Air dari ketujuh lokasi tersebut kemudian diarak bersama gunungan hasil bumi mengelilingi padukuhan yang menjadi simbol kesejahteraan dan kesuburan.

Arak-arakan kirab gunungan dan air dari ketujuh mata air disambut dan diterima oleh Dukuh Kroco dan diserahkan oleh ketua panitia.

Dalam acara ini hadir Asda 1 Setda Kulon Progo, Jazil Ambar Was’an, mewakili Pemkab Kulon Progo, perwakilan Anggota DPRD Kulon Progo, Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo, Panewu Pengasih dan Forkompinkap, Lurah, Pamong beserta Staf Kalurahan Sendangsari, Bhabinkamtimbas, Ketua Lembaga Kalurahan Sendangsari dan Pendamping Budaya.

Momen kebersamaan masyarakat kembali terlihat dalam acara Kembul Donga dan Kembul Bujono. Acara juga semakin semarak dengan dihadirkannya pentas tari oleh Sanggar Komunitas Wolulas. Sebagai acara penutup, dilakukan Udik-Udik atau penyebaran uang receh oleh pejabat Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, serta Kundha Kabudayan Kabupaten Kulon Progo. Dari orang tua hingga anak-anak berebut uang receh yang dipercaya membawa keberkahan.

Asisten Daerah 1 Setda Kulon Progo, Jazil Ambar Was’an, dalam sambutannya mengapresiasi kemeriahan acara tersebut. Menurutnya, tema "Nggayuh Wahyu Tuk Pitu" mencerminkan cita-cita mulia yang harus dibarengi dengan usaha nyata.

"Kami dari pemerintah kabupaten ikut senang dengan kegiatan yang begitu meriah ini, bagi saya cita-cita tidak akan terwujud jika hanya di angan-angan tanpa persiapan. Kita semua harus berikhtiar agar Wahyu Tuk Pitu ini benar-benar bisa terwujud bagi kesejahteraan warga," ujar Jazil.

Dukuh Kroco, Slamet Supriyono, S.Si menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya lokal dan penguatan rasa kebersamaan antar warga. "Kami berharap tradisi ini terus lestari dan semakin mempererat persaudaraan warga Kroco. Semoga tahun depan pelaksanaan lebih meriah," ujarnya.

Dengan semangat gotong royong dan nilai-nilai luhur yang diwariskan, Merti Padukuhan Kroco menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakat. Tradisi tahunan ini juga menjadi simbol pelestarian budaya sekaligus upaya menjaga keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).